CATATAN UNTUK OPERASIONAL LRT JABODEBEK

Foto: Kompas.com

 

Instran.id – Peresmian operasional kereta ringan (LRT) Jabodebek ternyata disambut antusias oleh masyarakat. Saya telah mencobanya naik LRT pada jam sibuk pagi dan sore untuk dua rute yang ada: Dukuh Atas – Harjamukti maupun Dukuh Atas – Jatimulya (Bekasi Timur). Berikut catatan evaluasinya

Pertama, potensi demand LRT cukup tinggi. Pada sore hari penumpang LRT berjubel seperti penumpang KRL.

Kedua, dalam setiap kali naik LRT saya selalu mencoba mencari info penumpang di kanan kiri saya, mereka sebelumnya naik apa sebelum ada LRT. Jawabannya beragam: ada yang naik Transjakarta, dijemput mobil kantor, naik JakLingko (angkot yang terintegrasi dengan Transjakarta), motor, dan mobil.

Ketika mereka ditanyakan, apakah akan tetap naik LRT kalau nanti tarifnya sudah normal?
1. Bagi pengguna TJ dan angkutan umum lainnya memberikan jawaban, “akan selang seling, tapi kalau pagi akan naik LRT karena ada kepastian waktu.
2. Bagi yang naik mobil, mereka akan tetap naik LRT karena masih tetap murah 50% dan waktunya lebih hemat. Seorang bapak yang kerja di Kuningan dan tinggal di Cilangkap menuturkan, biasanya dia naik mobil 1,5 jam dan ongkos (bensin, parkir, dan tol) minimum Rp. 100.000,-. Dengan LRT, dia ngojek dari rumah hanya Rp. 15.000,- ke stasiun Harjamukti. Tapi selanjutnya akan membawa sepeda motor saja karena Cuma tiga kilometer dari Stasiun, sehingga kalau tariff LRT Rp. 25.000,- dia masih tetap menghemat ongkos 50% dengan waktu tempuh yang lebih cepet dan tidak stress.
3. Jawaban yang sama diberikan oleh seorang muda yang bekerja di Kuningan dan tinggal di Ciracas. Sebelumnya dia naik sepeda motor, tapi sejak dioperasikan LRT dia milih naik LRT, dan akan lanjut naik LRT meski tarifnya normal karena ongkosnya hampir sama namun tidak capek kalau naik LRT.

Jadi dari segi potensi demand, LRT Jabodebek cukup tinggi asalkan sarananya handal dan fasilitas park and ride maupun integrasi dengan moda transportasi lain untuk firs and last mile (ujung pemberangkatan dan ujung kedarangan) cukup baik. Tapi justru di sini persoalan yang dihadapi oleh LRT. Minim fasilitas park and ride dan integrasi antar moda.
Fasilitas park and ride di Harjamukti misalnya, masih terbatas. Kata petugas paling memuat 25 mobil saja. Kalau sepeda motor bisa muat banyak. Tadi pagi berdiri lima menit saja di pintu masuk park and ride Harjamukti melihat beberapa mobil yang terpaksa putar balik, diarahkan parkir di Cibubur Juction karena sudah full. Sementara jarak Cibubur Juction ke Stasiun LRT sekitar 600 m dan harus menyeberang jalan di jalan tikungan. Ini tentu kurang berkeselamatan.

Harusnya, untuk membantu calon penumpang agar tidak membuang waktu karena cari tempat parkir, perlu ada koordinasi antara PT KAI dengan pengelola park and ride untuk menginfokan kepada calon penumpang yang bawa mobil kalau lokasi parkir sudah penuh. Sebab waktu yang hilang ketika sudah sampai stasiun dan putar balik mencari tempat parkir, lalu balik lagi ke stasiun itu bisa mencapai 10 menit lebih. Selain buang waktu juga BBM. Atau diumumkan saja, sampai dengan fasilitas park and ride memadai, calon penumpang dianjurkan naik motor saja yang tempat parkirnya lebih gampang.

Fasilitas park and ride yang terbatas juga terjadi di Stasiun Jatimulya Bekasi Timur. Yang sulit dipahami oleh akal sehat adalah mengapa lahan di depan stasiun Jatimulya yang sisi timur itu justru dibangun taman, bukan fasilitas park and ride. Fasilitas park and ride yang ada di sisi barat jelas amat minim. Di Stasiun Jatimulya ini juga dilayani oleh angkutan umum Trans Patriot, tapi tidak tersedia halte untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Harusnya difasilitasi halte sederhana yang memudahkan dan sekaligus menjadi petunjuk pada penumpang bahwa di stasiun tersebut ada layanan bus.

Kondisi yang ironis itu juga terjadi di Stasiun TMII. Di sana sebetulnya sudah ada layanan Transjakarta, baik untuk bus besar (7D) maupun bus kecil (Jak 36), tapi juga tidak dibuatkan ruang agar kendaraan tersebut dapat menaikkan/menurunkan penumpang di area stasiun sehingga tidak menimbulkan kemacetan lalu lintas dan memudahkan calon penumpang LRT untuk pindah moda.

Stasiun-stasiun lain juga masih buruk aksesnya. PT Adhi Karya sepertinya hanya bangun jalur keretanya saja, tidak memikirkan optimalisasi penggunaan sarana tersebut karena itu urusan PT KAI. “Pokoknya urusanku bangun, soal operasional LRT sepi atau ramai bukan urusanku”, barangkali begitu pakemnya. Tentu saja ini cara berfikir yang ego sentris. Kasihan PT KAI yang kejatah mengoperasikan namun tidak didukung dengan fasilitas park and ride dan integrasi antar moda yang baik. Di stasiun-stasiun lain, terutama yang rute Dukuh Atas – Jatimulta masih mengalami problem akses dan integrsi; baik itu di Jati Bening, Cikunir 1, Cikunir 2, Bekasi Barat.

Fasilitas integrasi yang dapat dikatakan baik baru yang ada di Cawang sampai Dukuh Atas saja. Selebihnya masih menjadi PR besar. Hanya saja, siapa yang harus menyelesaikan pembangunan fasilitas integrasi tersebut, terutama prasananya. Semoga PT Adhi Karya masih tetap memiliki tanggung jawab moral untuk melakukan perbaikan infrastruktur, terutama untuk park and ride dan fasilitas integrasi di stasiun-stasiun.

Ketiga, terkait dengan sarana, menurut saya tempat duduk LRT tidak sebanyak KRL. Bila kursi panjang KRK itu bisa untuk 7-8 orang, maka LRT hanya untuk 4-5 orang. Padahal, ruangnya masih memungkinkan untuk dibuat menjadi 5-6 orang agar lebih banyak orang yang bisa duduk.

Keempat, dari segi layanan. Di beberapa stasiun berhentinya bisa lebih dari 1-2 menit, belum tahu persis apa sebabnya. Sebaiknya tundakan waktu ini bisa diminimalisir. Dan menjelang masuk ke stasiun, sebaiknya ada penjelasan pula pintu sebelah kiri/kanan yang akan dibuka. Di beberapa stasiun, terutama sore hari, ketika banyak penumpang yang belum familier, mereka bingung, yang dibuka sebelah kiri atau kanan.

 

Ki Darmaningtyas
Ketua INSTRAN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *