WFH Jadi Tantangan BPTJ Pacu Tingkat Penggunaan Angkutan Umum

 

INSTRAN.id – Perubahan pola perilaku masyarakat seiring dengan hadirnya pandemi Covid-19 di Tanah Air seperti adanya kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dinilai akan menjadi tantangan bagi Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

Pasalnya, dalam Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ), BPTJ menargetkan modal share atau tingkat penggunaan angkutan umum perkotaan pada 2029 menjadi 60 persen.

Menurut Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas yang turut serta dalam menyusun RITJ, memang ada perubahan perilaku masyarakat yang pada saat penyusunan RITJ belum terbayangkan, yaitu work from home.

“Sekarang tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dengan ngantor. Dengan adanya tren masyarakat WFH itu akan menjadi tantangan besar bagi BPTJ untuk mewujudkan RITJ,” katanya kepada Bisnis.com, Kamis (14/10/2021).

Dia menyebut, saat ini yang menjadi persoalan dalam penggunaan angkutan umum massal bukanlah menurunnya kepercayaan masyarakat karena pandemi. Melainkan berbagai kebijakan yang membatasi pergerakan sehingga bila tidak mendesak, orang juga enggan untuk bepergian.

Pasalnya, ujar Darmaningtyas, begitu ada pelonggaran aturan perjalanan, pengguna angkutan umum seperti KRL Jabodetabek, TransJakarta, dan angkutan perkotaan lainnya juga meningkat.

“Jadi tidak ada yang namanya masyarakat kehilangan kepercayaan naik angkutan umum. Kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum akan tumbuh seiring dengan pemberlakuan kebebasan perjalanan,” sebutnya.

Meski begitu, dia menuturkan BPTJ tetap bisa mewujudkan target modal share 60 persen tersebut dengan terus menggalakkan penggunaan angkutan umum massal perkotaan. Sebab, sekalipun mayoritas pekerja kini bekerja dari rumah, masih ada kelompok-kelompok lainnya yang akan tetap membutuhkan layanan transportasi umum.

Dia menyebut seiring perubahan perilaku akibat pandemi, kebutuhan akan layanan angkutan umum juga akan memiliki tujuan yang berbeda. Penggunaannya bukan saja didominasi para pekerja, tapi juga untuk kegiatan sosial, rekreasi, hingga transformasi budaya.

“Kalau kemarin saat kita menyusun RITJ bayangan kita kan semua orang yang bekerja nanti 60 persen akan menggunakan angkutan umum tapi karena terjadi pola perubahan perilaku masyarakat dalam hal bekerja maka yang harus kita galak adalah bagaimana masyarakat menggunakan angkutan umum untuk kebutuhan sosial lainnya,” imbuh Darmaningtyas.

Untuk diketahui, dalam RITJ yang disusun oleh BPTJ, ditargetkan hingga akhir 2029, pergerakan orang yang menggunakan angkutan umum massal perkotaan mencapai 60 persen dan target waktu perjalanan dengan angkutan umum rata-rata maksimal 1 jam 30 menit dari tempat asal ke tujuan.

Target itu dapat tercapai jika perpindahan moda dalam satu kali perjalanan maksimal 3 kali. Untuk itu kecepatan rata-rata kendaraan angkutan umum perkotaan pada jam puncak minimal 30 km/jam.

Selain itu, pengembangan sistem angkutan massal yang dilakukan juga harus memerhatikan aksesibilitas dari layanan angkutan umum perkotaan yang mencapai 80 persen dari panjang jalan. Dengan target tersebut, setiap daerah harus memiliki jaringan layanan transportasi lokal/pengumpan (feeder) yang terintegrasi dengan jaringan utama melalui satu simpul transportasi perkotaan.

 

Sumber : Bisnis.com, 14 Oktober 2021

 

https://ekonomi.bisnis.com/read/20211014/98/1454278/wfh-jadi-tantangan-bptj-pacu-tingkat-penggunaan-angkutan-umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *