Pers Release

Masalah Struktural Menghancurkan Transjakarta.

Senin, 6 Januari 2021 direktur utama PT Transjakarta Yana Aditya dalam pertemuan dengan DPRD Jakarta memaparkan bahwa ada 502 kecelakaan yang dialami oleh bus transjakarta sepanjang Januari-Oktober 2021. Kecelakaan paling banyak disebabkan bus transjakarta menabrak obyek tertentu atau kecelakaan tunggal, yakni 88 persen dari total kecelakaan. Sementara 12 persen lainnya, bus transjakarta ditabrak atau diserempet oleh kendaraan lain. Data kecelakaan ini belum termasuk semua kecelakaan di bulan November, 2021. Data diungkapkan juga oleh Yana Aditya kemarin bahwa kecelakaan paling banyak melibatkan bus milik operator PPD yakni 34 persen, disusul operator Mayasari 32 persen, Steady Safe 16 persen, Kopaja 13 persen, Transwadaya 3 persen, Pahala Kencana 1 persen, dan Bianglala 1 persen.

Jumlah kecelakaan Transjakarta itu akan jadi lebih banyak jika dihitung hingga Desember 2021 ini. Data kecelakaan yang dipaparkan oleh direktur utama Transjakarta, Yana Aditya tersebut menunjukan bahwa Transjakarta sedang terlilit masalah struktural. Melihat kecelakaan yang terjadi tidak cukup hanya pada persoalan teknis atau human error sebagai penyebab terjadinya kecelakaan. Sangat banyaknya terjadi kecelakaan itu menandakan bahwa ada persoalan tidak jalannya pengawasan di internal manajemen Transjakarta. Tidak berjalannya pengawasan internal manajemen itu disebabkan oleh tidak bekerjanya struktur kekuasaan manajemen Transjakarta. Artinya saat ini Transjakarta sedang jatuh pada persoalan struktural yang sangat berat. Semua kecelakaan Transjakarta tersebut adalah masalah hancurnya pelayanan yang disebabkan direksi Transjakarta sebagai struktur penting operasional Transjakarta tidak bekerja sebagaimana seharusnya. Begitu pula struktur kekuasaan pengawas atas direksi Transjakarta juga tidak berjalan secara baik menjaga agar direksi Transjakarta bekerja membangun pelayanan yang aman, nyaman dan selamat.

Bagus jika sekarang Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) sudah mulai masuk terlibat melakukan pemeriksaan masalah ini. Untuk memperkuat dan mendukung perbaikan pelayanan Transjakarta ini juga perlu dilakukan audit menyeluruh kerja struktur kekuasaan manajemen Transjakarta yang menyebabkan menghancurkan keselamatan pelayanan Transjakarta. Perlu juga segera diaudit kerja para direksi, pengawas dan Pemprov Jakarta sebagai pemegang saham terbesar Transjakarta. Evaluasi atau kesalahan jangan hanya dilempar pada para operator dan pengemudi yang busnya alami kecelakaan. Siapa direksi yang memutuskan pemilihan operator mitra Transjakarta? Siapa direktur yang bertanggung jawab dalam mengelola operasional Transjakarta? Siapa direktur yang bertanggung jawab menyediakan fasilitas yang baik dan aman bagi pelayanan Transjakarta? Siapa “pemilik” utama Transjakarta? Nah struktur kekuasaan manajemen pelayanan Transjakarta ini harus diaudit dan diperiksa. Begitu seharusnya gubernur Jakarta, Anies Baswedan harus segera mengambil tindakan tegas dalam menyelesaikan masalah struktural Transjakarta. Kecelakaan sudah lebih dari 502 kejadian dan korban meninggal Duni dan luka-luka akibat kecelakaan Transjakarta sudah tetapi sampai sekarang gubernur Jakarta, Anies Baswedan diam saja. Jika gubernur diam saja, bisa jadi gubernur Jakarta mendiamkan Transjakarta hancur.

 

Jakarta, 9 Desember 2021
Azas Tigor Nainggolan
Ketua FAKTA,
Analis Kebijakan Transportasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *