Estetika mengalahkan Efektivitas, Apakah Kawasan Sudirman membutuhkan JPO lagi?

Oleh : Ulfi Puarada

Figure 1 JPO Pinisi yang telah diresmikan pada hari Kamis, 10 Maret 2022

Pada tanggal 10 maret 2022, salah satu JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) yang terletak di Karet, Sudirman, Jakarta Pusat telah kembali resmi dibuka untuk publik. Pembangunan JPO ini telah dilaksanakan selama masa pandemi. Desain JPO terlihat unik dengan rancangan seperti Kapal Pinisi yang mempunyai nilai sejarah bagi Indonesia. JPO ini didirikan oleh Pemerintah DKI Jakarta untuk mengenang perjuangan tenaga Kesehatan yang gugur saat menangani pandemi dengan mengukir nama mereka pada salah satu sisi bagian JPO ini. Akan tetapi, dengan diaktifkan nya JPO tersebut, pelican crossing yang menghubungkan antara halte TransJakarta dan trotoar tersebut juga resmi ditutup.

Bukan hal baru bahwa JPO telah menggantikan beberapa penyeberangan sebidang di Beberapa daerah pusat kota Jakarta, dua diantaranya adalah JPO Bundaran Senayan dan JPO Gelora Bung Karno. Tetapi apakah pemilihan JPO sebagai fasilitas penyeberangan pedestrian adalah keputusan yang sesuai untuk keadaan di pusat Jakarta ini?

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) merupakan salah satu fasilitas penyeberangan tidak sebidang berupa jembatan yang dikhusukan untuk penyeberangan pejalan kaki karena arus lalu lintas ramai dan dilewati oleh kendaraan dengan kecepatan tinggi seperti pada jalan tol. Mengutip dari SE Menteri PUPR No.02/SE/M/2018 tentang Pedoman Perancanaan Teknis Fasilitas Pejalan Kaki, Penyeberangan tidak sebidang digunakan bila:

1) fasilitas penyeberangan sebidang sudah mengganggu arus lalu lintas yang ada;

2) frekuensi kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki sudah cukup tinggi;

3) pada ruas jalan dengan kecepatan rencana 70 km/jam;

4) pada kawasan strategis, tetapi tidak memungkinkan para penyeberang jalan untuk menyeberang jalan selain pada penyeberangan tidak sebidang.

Dinas Bina Marga DKI Jakarta memberikan pernyataan mengenai pemilihan fasilitas JPO di daerah Karet Sudirman ini disebabkan oleh pelican crossing yang membuat kemacetan dan antrian terhadap kendaraan bermotor. Pernyataan tersebut secara tidak langsung memberi kesan bahwa prioritas jalan diberikan kepada pemilik kendaraan tanpa melihat kenyamanan pejalan kaki. Padahal, Penentuan fasilitas penyeberangan harus melihat kedua arus lalu lintas yang disebabkan oleh penyeberangan pejalan kaki dan kendaraan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa JPO Karet estetik untuk dipandang, tetapi kecantikan tersebut hanya untuk dinikmati beberapa saat saja. Terlihat di Hari sabtu-minggu, jpo ini menjadi daya Tarik bagi masyarakat untuk singgah dan berfoto memperlihatkan suasana di pusat kota Jakarta. Akan tetapi, JPO Pinisi hadir di kawasan pusat bisnis dan perkantoran secara fungsi tampak tidak efektif bagi para pekerja yang aktif menggunakan angkutan umum yang lalu Lalang disaat hari kerja. Hemat waktu dan jarak merupakan salah satu poin penting untuk para pekerja kantoran di hari sibuk mereka. Apalagi terdapat dua halte transit di sisi barat dan timur untuk pengguna angkutan umum yang harus berpindah kendaraan, telat sedikit maka harus menghabiskan waktu lebih lama untuk menunggu angkutan umum selanjutnya. Rata-rata, dengan adanya JPO, pengguna jalan menghabiskan waktu lebih lama untuk menyeberang dibandingkan dengan fasilitas penyeberangan sebidang.

Jika dikatakan JPO Karet ramah disabilitas dan pesepeda, bukankah memang sudah seharusnya fungsi suatu penyeberangan memudahkan semua kalangan. Walaupun lift telah dipasang untuk memudahkan penyandang disabilitas, pesepeda, dan usia lanjut, akan tetapi lift tersebut hanya dapat diakses sampai dengan pukul 20.00 WIB sedangkan saat ini TransJakarta beroperasi sampai dengan pukul 22.00 WIB. Sehingga mempersulit akses bagi pengguna tertentu setelah waktu tersebut. Oleh karena itu, perlu ada perhatian dalam mendesain JPO selain nilai estetik setidaknya ramp perlu ditambahkan seperti yang telah ditentukan dalam dokumen teknis yang telah ada dan akses lift yang diberikan 24 jam untuk mendukung fungsi JPO sebagai tempat penyeberangan untuk semua pengguna jalan.

Tampak pula fasilitas pendukung yang terlihat sebagai definisi ramah pesepeda yaitu parkir sepeda diatas jembatan untuk memberikan kenyamanan bagi pesepeda yang ingin berfoto di tingkat teratas Salah satu miss yang terlihat dari JPO ini adalah untuk dapat menikmati pemandangan dari tingkat atas jembatan ini tidak dapat dinikmati oleh pengguna kursi roda, karena tidak ada akses bagi mereka walaupun jembatan ini memang sudah dilengkapi lift.

Figure 2 Pelican crossing yang telah ditutup setelah peresmian JPO Pinisi

Sebagai fasilitas untuk pejalan kaki, fasilitas penyeberangan perlu melihat aspek keselamatan, keamanan, dan kenyamanan bagi pengguna. Keinginan pejalan kaki untuk mencoba meminimilasir jarak tempuh harus dipertimbangkan dalam proses tersebut. Oleh karena itu, dengan memperbaiki konektivitas pejalan kaki dari halte atau stasiun dapat meningkatkan penggunaan angkutan umum. Walaupun JPO ini telah hadir lebih dulu sebelum digantikan sementara oleh pelican crossing saat sedang direnovasi, hadirnya pelican crossing tidak dapat dipungkiri memudahkan para pengguna transportasi umum dan pengguna jalan lainnya untuk dapat sampai ke tempat yang dituju lebih cepat. Pelican crossing merupakan fasilitas penyeberangan sebidang yang dilengkapi dengan lampu lalu lintas yang akan aktif saat pejalan kaki menekan tombol.

Pengguna jalan di Kawasan Sudirman tidak hanya pemilik kendaraan bermotor, adapula pejalan kaki dan pesepeda dengan berbagai latar diantaranya pekerja kantoran, pedagang, penyandang disabilitas, pesepeda dan lainnya. Dengan menyediakan penyeberangan sebidang seperti pelican crossing, kecepatan kendaraan di Kawasan Sudirman ini dapat dikurangi karena adanya kontak mata antara para pengguna jalan untuk sadar akan keadaan sekitar dan berbagi jalan dengan pengguna lain.

Secara keseluruhan, JPO Pinisi ini memang memenuhi segi estetika tetapi terasa tidak memenuhi segi fungsional fasilitas penyeberangan itu sendiri. Dengan kehadiran JPO ini juga semakin menekankan bahwa, kota ini di desain untuk memudahkan pengendara kendaraan bermotor. Bukan berarti jembatan penyeberangan orang tidak dapat digunakan sebagai fasilitas penyeberangan, tetapi penggunaan fasilitas tersebut harus tepat guna. Jika ingin menjadikan Jakarta sebagai global city, perlu dikaji kembali diprioritaskan untuk siapa Kawasan ini dan kota Jakarta seperti apa yang ingin ditampilkan di dunia.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *