Tantangan Setelah Integrasi Transportasi Jakarta

Foto: Kompas.id

 

Proses integrasi transportasi Jakarta mulai berjalan. Namun, tantangan keberlanjutan, merawat, dan meningkatkannya sudah di depan mata.

 

Syafrin menyebutkan, semua itu tak lepas dari kolaborasi pusat dan daerah, badan usaha, dan swasta dalam menata transportasi berbasis transit dalam lingkup Jabodetabek. Contoh paling ideal, yaitu integrasi KRL, MRT, Transjakarta, dan Trans-Jabodetabek, di kawasan Dukuh Atas. Pejalan kaki dan pesepeda terhubung dengan moda angkutan umum melalui trotoar dan terowongan yang bebas okupasi.

Selain itu, penataan kawasan stasiun, seperti Stasiun Tanah Abang. Mobilitas menjadi warga lebih efisien karena ada titik transit dengan beragam moda angkutan.

First mile dan last mile mendukung integrasi. Warga dari rumah ke angkutan umum didukung trotoar yang layak, lalu mudah transit dari angkutan umum satu ke lainnya hingga terhubung ke tujuan akhir,” katanya.

Pembenahan ini, misalnya, membuat jumlah pengguna Transjakarta naik dari 400.000 orang per hari pada 2017 menjadi 1 juta pelanggan per hari sebelum pandemi Covid-19. ”Beberapa waktu ke depan kami rencanakan sistem pembayaran di semua halte berbasis pengenalan wajah (face recognition),” ucapnya.

PT Jaklingko Indonesia dan PT Transportasi Jakarta menerapkan kebijakan baru bertransportasi, yaitu satu kartu satu penumpang dan penumpang wajib tap in dan tap out. Kebijakan yang minim sosialisasi itu menyulitkan penumpang dan memunculkan antrean seperti di halte Tosari pada Rabu (5/10/2022) petang ini.

 

Pengembangan

PT JakLingko Indonesia tengah melakukan uji coba face recognition untuk sistem pembayaran di semua halte. Uji coba bersama rekanan dari Jepang supaya keamanan data terjamin.

Direktur Utama PT JakLingko Indonesia Muhamad Kamaluddin menuturkan, uji coba membutuhkan izin dari pengguna atau setelah ada tanda tangan sebagai jaminan penggunaan video metrik pengenalan wajah.

”Integrasi menyeluruh supaya kuatkan data mobilitas di Jakarta. Ke depan juga akan ditambah area parkir,” ujarnya.

MRT dengan panjang layanan 16 km untuk fase pertama dari Lebak Bulus ke Bundaran HI dan pembangunan fase kedua sepanjang 6 km ke Jakarta Kota turut berupaya mengoptimalkan first mile dan last mile.

Railway Maintenance Division Head MRT Jakarta Mega Tarigan mengatakan, MRT berkolaborasi dengan Transjakarta, bus sekolah, bus lain, dan taksi untuk memudahkan akses ke stasiun terdekat. Kolaborasi ditunjang pula dengan kepastian jadwal, paket, dan promo.

”Ke depan, sosialisasi masif fasilitas integrasi yang sudah dibangun. Juga membangun fasilitas pendukung parkir dan jalur sepeda, pejalan kaki, dan regulasi instrumen,” katanya.

Kereta Moda Raya Terpadu (MRT) berhenti di Stasiun ASEAN, Jakarta Selatan, Senin (1/4/2019).

 

MRT mengoptimalkan panjang layanan 16 km, dengan pengelola kawasan transit di Stasiun Lebak Bulus, Stasiun Blok M, Stasiun Senayan, Stasiun Istora, Stasiun Bendungan Hilir, Stasiun Setiabudi, Stasiun Dukuh Atas, dan Stasiun Bundaran Hotel Indonesia.

Selain itu, pembangunan area transit Dukuh Atas, Jembatan Multiguna Dukuh Atas, dan transit plaza, hub, serta jembatan layang POINS di Lebak Bulus. Pembangunan area transit mencapai 65 persen dengan target rampung Maret 2023, jembatan multiguna sebesar 70 persen dengan target selesai akhir 2022, dan jembatan layang yang hampir selesai Oktober ini.

”Nantinya kami akan bangun terowongan dari stasiun ke tempat aktivitas warga. Salah satunya antara Dukuh Atas dan Thamrin Nine,” ucapnya.

 

Sumber: https://www.kompas.id/baca/metro/2022/10/14/tantangan-setelah-integrasi-transportasi-jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *