Kemenhub: Angkutan Perintis Butuh Tambahan Subsidi

Foto: rri.co.id

 

Instran.id – Direktur Angkutan Jalan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Suharto mengungkapkan, penyesuaian harga BBM berdampak pada kenaikan biaya operasional kendaraan perintis. Secara otomatis, angkutan yang melayani masyarakat pelosok tersebut diperlukan perubahan biaya operasional dan subsidi kendaraan perintis.

“Kenaikan biaya operasional ini secara otomatis akan mengurangi terhadap capaian sampai dengan akhir tahun. Karena alokasi anggaran itu sudah terpatok pada tahun anggaran demikian,” kata Suharto di Jakarta, Rabu (2/11/2022).

Kata Suharto, anggaran yang seharusnya sampai Desember ada sebagian terhenti hingga Oktober atau November 2022. Hal itu dikarenakan untuk menutupi biaya operasional agar kendaraan perintis tetap berjalan.

“Permasalahan yang ada karena memang beberapa bulan yang lalu hampir seluruh kementerian atau lembaga mendapatkan automatic adjustment terkait dengan alokasi anggarannya,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Damri Setia N. Milatia Moemin mengungkapkan, performa angkutan perintis kurang maksimal karena faktor usia kendaraan di tengah kondisi medan yang berat dan sulit. Kerusakan akibat kondisi jalan itu menyebabkan lebih cepat pemakaian suku cadang dan ban sehingga kinerja angkutan tidak maksimal.

“Kadang harus masuk air, jalanannya rata-rata offroad. Contoh di Papua yang melingkar itu sudah bagus, tapi masuk ke dalam jalannya banyak offroad dan daerah terluar pun hampir sama,” katanya.

Selain itu, kendala lain BUMN yang telah melayani angkutan perintis selama lebih dari 15 tahun itu adalah biaya operasional. Akibat perbedaan harga suku cadang dan kelangkaan BBM di beberapa daerah, membuat biaya operasional membengkak.

“Saat kelangkaan BBM biasanya kami harus bayar BBM tidak seperti di kontrak. Kadang dua kali lipat, kadang bisa dua setengah kali lipat sampai tiga kali lipat,” katanya.

Kata Milatia, meski harga BBM sangat tinggi, pihaknya berupaya untuk tetap beroperasi. Karena Damri jadi satu-satunya pilihan masyarakat.

“Kalau Damri tidak beroperasi, contoh, anak-anak di Papua ya tidak bisa berangkat sekolah sama guru-gurunya. Karena alternatif angkutan untuk mereka sampai tujuan itu satu-satunya hanya Damri,” ucapnya.

 

Sumber: https://rri.co.id/daerah/77852/kemenhub:-angkutan-perintis-butuh-tambahan-subsidi#.Y2NT-pmCufQ.whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *