Foto: Kompas.com
Instran.id – IBU KOTA pusat pemerintahan RI akan segera berpindah dari Jakarta ke Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan.
Rencananya, upacara kenegaraan HUT RI 17 Agustus 2024, akan berlangsung di IKN Nusantara.
Kepindahan ini sejalan dengan spirit Indonesia sentris dan telah dilandasi Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara.
Dari aspek perencanaan, salah satu kelebihan dari membangun kota atau wilayah baru adalah dapat menyiapkan desain seideal mungkin dan leluasa tanpa kendala pembebasan bangunan yang cenderung menghabiskan waktu.
Hal ini termasuk integrasi jaringan transportasi publik antarmoda yang akan dibangun di IKN.
Sistem transportasi IKN dibangun berbasis konsep “Smart (green) City, Smart (green) Mobility”, yang diterjemahkan dalam tiga Key Performance Indicator (KPI), yaitu:
- 80 persen perjalanan menggunakan transportasi publik dan mobilitas aktif (berjalan kaki dan bersepeda);
- Kota 10 Menit menuju fasilitas penting perkotaan dan simpul transportasi; dan
- Net Zero Emission.
Untuk mendukung realisasi konsep ini, diperlukan infrastruktur dan sarana transportasi yang mengedepankan prinsip transportasi ramah pengguna (user friendly) dan ramah lingkungan.
Forest Smart City
Wilayah darat kawasan pengembangan IKN dengan luas 256.142 hektare hampir seluas kabupaten Bogor, tetapi lebih luas dari kabupaten Bandung Barat dan kabupaten Malang, serta lebih dari tiga kali lipat luas DKI Jakarta.
IKN Nusantara terdiri dari 72.690 hektare kawasan perkotaan dan 183.453,13 hektare kawasan penyangga lingkungan hidup dan pendukung ketahanan pangan.
Dibandingkan dengan wilayah Australian Capital Territory yang seluas 235.800 hektare, IKN Nusantara masih lebih luas.
Artinya, IKN dapat didesain sebaga kota taman hutan atau kota konservasi seperti Canberra, dengan satu pusat kota, jalan-jalan lebar, dan dikelilingi dengan banyak “Suburb” di pinggiran wilayahnya.
Tidak ada salahnya jika jaringan jalan di IKN Nusantara didesain dengan ”Right of Way” yang lebar dan ruang-ruang parkir luas seperti Canberra.
Tidak ada yang perlu parkir di pinggir jalan, karena ruang-ruang parkir yang cukup/amat lapang tersedia di semua lokasi strategis.
Namun, luas teritori IKN Nusantara masih kalah dari ibu kota Brasil, yakni Brasilia yang luasnya 580.000 hektare lebih.
Jaringan transportasi “Backbone” di Brasilia didesain cukup artistik dengan trase yang mirip busur panah beserta anak panahnya dilihat dari (foto) udara.

Wilayah IKN Nusantara terbagi menjadi sembilan Wilayah Perencanaan, di mana pusat pemerintahan berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN seluar 6.671 hektare, kira-kira seluas BSD di Tangerang Selatan, lebih sedikit.
IKN Nusantara berada di sebelah utara Kota Balikpapan dan sebelah selatan Kota Samarinda. KIPP beririsan (overlay) dengan dua wilayah kecamatan, yakni Sepaku (kabupaten Penajam Paser Utara) dan Loa Kulu (kabupaten Kutai Kertanegara).
Jaringan Infrastruktur “Backbone”
Jaringan infrastruktur darat “Backbone” regional yang menghubungkan Balikpapan – IKN – Samarinda akan berupa jaringan jalan tol, jalan arteri primer/sekunder (jalan nasional), dan jalur rel kereta api, sebagaimana tertuang pada Perpres 64/2022 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Ibukota Tahun 2022-2042.
Jalan tol Balsam (Balikpapan -Samarinda) sepanjang 99 kilometer sudah operasional sejak 2019.
Dari keseluruhan ruas jalan tol baru sepanjang 75,62 kilometer yang sedang dan akan dibangun, 3 (tiga) ruas diperkirakan operasional pada 2024.
Ruas-ruas tersebut meliputi seksi 3A (segmen Karangjoang-KKT Kariangau sepanjang 13,4 kilometer), seksi 3B (segmen KKT Kariangau-Simpang Tempadung sepanjang 7,33 kilometer), dan seksi 5A (segment Simpang Tempadung-Jembatan Pulau Balang I sepanjang 6,68 kilometer),
Kehadiran ruas jalan tol IKN Nusantara tersebut akan mempersingkat waktu tempuh dari Balikpapan ke KIPP menjadi 1 jam 30 menit. Saat ini waktu tempuhnya masih sekitar 2 jam melalui jalan tol Balsam yang tersambung dengan jalan nasional eksisting menuju KIPP.
Dua jembatan raksasa megah yang melintasi laut (teluk) akan menjadi ikon kebanggaan IKN, yakni jembatan pulau Balang 1 (dengan bentang 708 meter) dan jembatan pulau Balang 2 (berbentang “Pendek” 470 meter).
Jembatan yang pertama sudah selesai dibangun pada 2021 dan jembatan kedua akan selesai konstruksi tahun depan. Kedua jembatan ini tersambung dengan ruas jalan tol segmen 4 (Jembatan Pulau Balang 1–Simpang Tempadung) yang juga ditargetkan beroperasi tahun depan.
Kedua jembatan ini memiliki makna vital dari aspek konektivitas dan jalur logistik.
Sementara itu, mobilitas masyarakat di KIPP akan dilayani dengan kereta api/Automated Guideway Transit (AGT) dan bus listrik BRT, serta kemungkinan besar driverless taxi.
Saat ini semua jaringan jalan arteri di dalam KIPP sudah terbangun, terutama jalan sumbu kebangsaan dan jalan lingkar luar (outer ring road), meskipun belum dilapisi dengan perkerasan (beton/aspal).
Tidak akan terlihat tiang-tiang listrik dengan kabel yang menjulur atau menjuntai ke sana kemari di jalanan KIPP.
Hal ini karena semua jaringan listrik berada di bawah tanah. Sumber listriknya pun dari energi terbarukan, baik PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) maupun PLTA yang terhubung dengan “Smart Grid”.
Saat ini untuk mengakses KIPP di Kecamatan/Desa Sepaku dapat ditempuh melalui jalan tol atau jalan nasional Balikpapan – Samarinda.
Dari gerbang tol Balikpapan Utara atau Sepinggan atau Kariangau masuk ke jalan tol Balsam ke arah Samarinda dan setelah sampai KM 33 di Samboja keluar toll gate ke arah Sepaku melalui jalan nasional yang ada.
Alternatifnya, dari jalan nasional Balikpapan – Samarinda, ke arah Samarinda, belok kiri di simpang SPBU Samboja (KM 38) ke arah Sepaku.
Kawasan Pusat Pelayanan Kota dan Sub Pusat Pelayanan Kota di 6 Wilayah Perencanaan KIPP IKN akan dihubungkan dengan jaringan transportasi massal menjadi Kawasan Transit Oriented Development (TOD) yang mengintegrasikan transportasi publik antarmoda, yakni kereta api antarkota, kereta bandara, bus listrik BRT, dan kemungkinan besar driverless taxi.
Semua jaringan jalan dan lokasi-lokasi strategis di IKN Nusantara akan dilengkapi dengan “Charging Station”.
Kawasan perkotaan IKN Nusantara yang dirancang menjadi kota yang kompak, mempunyai moda utama berjalan kaki dan bersepeda. Namun, warga IKN Nusantara, khususnya bagi kaum disabilitas, lansia, ibu hamil, orang membawa anak, dan perempuan pada jam malam, dapat mengakses driveless autonomous minibus sebagai First Mile & Last Mile.
IKN Nusantara sebagai outlet negara sangat perlu eksis sebagai representasi kota super modern “Smart Green City” dengan “Smart Mobility” dan sekaligus sebagai kebanggaan masyarakat Indonesia.
“Green” tidak hanya dalam arti berbasis energi terbarukan, akan tetapi juga sebagai “Forest City”.
