Instran.id – Pemerintah bersama sejumlah instansi terkait tengah mempercepat pembangunan kawasan integrasi transportasi di Stasiun Manggarai.
Nantinya, Light Rail Transit (LRT) Jakarta akan langsung terhubung dengan KRL, TransJakarta, dan moda transportasi darat lainnya di satu kawasan Manggarai.
Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Jakarta bersama Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda serta Pemprov DKI Jakarta telah melakukan kunjungan lapangan untuk meninjau rencana integrasi tersebut.
Direktur Prasarana Integrasi Transportasi Antarmoda, Sigit Irfansyah, mengatakan fokus utama pengembangan adalah memperkuat konektivitas antar moda.
“Stasiun Manggarai akan menjadi simpul utama transportasi perkotaan dengan adanya koneksi langsung LRT Jakarta,” ujarnya saat peninjauan, dilansir dari Instagram resmi @btpjakarta.
Simpul Baru Transportasi Jakarta
Kepala BTP Jakarta Ferdian Suryo Adhi Pramono menegaskan, percepatan pembangunan sangat penting agar target operasional dapat tercapai.
“Manggarai akan benar-benar menjadi pusat integrasi transportasi massal Jakarta,” ujarnya.
Dengan integrasi ini, perpindahan antar moda seperti KRL, LRT, hingga TransJakarta bisa dilakukan lebih cepat, aman, dan nyaman.
Progres LRT Fase 1B
Proyek LRT Jakarta Fase 1B yang menghubungkan Velodrome–Manggarai kini mencapai 67,12 persen per awal September 2025.
Corporate Secretary PT Waskita Karya (Persero) Tbk, Ermy Puspa Yunita, menjelaskan saat ini tengah dilakukan pemasangan struktur slab deck, jalur rel, serta balok girder yang melintas di Tol Wiyoto Wiyono.
“Pekerjaan pondasi jalur layang di sekitar Pintu Air Manggarai dan Flyover Matraman juga sudah berjalan, termasuk pembangunan struktur Stasiun Manggarai,” ujar Ermy, dikutip dari Antara.
Selain Stasiun Manggarai, fase ini juga mencakup pembangunan lima stasiun baru, yakni Pemuda Rawamangun, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai.
Dorong Mobilitas dan Kurangi Kemacetan
Integrasi di Manggarai diharapkan memperluas pilihan transportasi publik warga Jakarta sekaligus menarik lebih banyak pengguna untuk beralih dari kendaraan pribadi.
Pemprov DKI menilai langkah ini akan membantu mengurai kemacetan di ibu kota.
Tak hanya itu, konsep pengembangan juga menekankan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas demi menciptakan transportasi yang inklusif.
Dalam pengerjaannya, Waskita Karya menggunakan sejumlah inovasi, termasuk metode long span (bentang panjang) di area padat lalu lintas serta penerapan Building Information Modelling (BIM) level 7D untuk pengendalian proyek.
Teknologi ini juga akan memudahkan pemeliharaan ketika LRT beroperasi.
Total anggaran pembangunan LRT Jakarta Fase 1B mencapai Rp 4,1 triliun, bersumber dari Penyertaan Modal Daerah (PMD) Pemprov DKI Jakarta melalui APBD.
