Instran.id – Kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) yang diterapkan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan diimbau bagi pekerja swasta, khususnya WFH sehari dalam sepekan, dinilai kurang efektif dalam mengurangi beban energi nasional. Alih-alih penghematan, kebijakan ini berpotensi menggeser beban energi ke sektor rumah tangga melalui peningkatan konsumsi listrik dan internet, dilansir dari Money.
Ekonom dan Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengemukakan bahwa penerapan WFH tidak akan memberikan efisiensi yang signifikan. Bagi ASN, jumlah yang relatif kecil tidak akan menghasilkan penghematan bahan bakar minyak (BBM) yang berarti. Bahkan, ada risiko kenaikan konsumsi BBM jika WFH disalahgunakan menjadi “work from anywhere” (WFA) untuk liburan di hari Jumat.
Untuk sektor swasta, sifat kebijakan yang hanya berupa imbauan membuat efisiensi tidak akan terwujud secara maksimal. Banyak pekerja swasta di Jakarta juga telah menerapkan WFA sejak pandemi Covid-19, sehingga WFH satu hari tidak akan banyak mengubah pola konsumsi energi.
Nailul Huda justru menyarankan pemerintah untuk lebih fokus pada peningkatan penggunaan dan pembangunan transportasi umum. Menurutnya, isu ini tidak hanya berkaitan dengan penghematan energi, tetapi juga tata kota dan lingkungan. Ancaman krisis energi global seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan transportasi publik yang terintegrasi di perkotaan.
Ia menekankan bahwa percepatan pembangunan transportasi umum memerlukan kebijakan yang tepat, seperti pembuatan trayek yang sesuai dengan kebutuhan, serta pembangunan halte dan fasilitas pejalan kaki yang layak. Banyak pekerja swasta dan ASN di Jabodetabek saat ini sudah mengandalkan Transjakarta dan KRL.
