Instran.id – Berdasarkan informasi dari BMKG Bengkulu potensi gelombang tinggi akibat Angin Monsun Australia terjadi di Perairan Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara. Bahkan ketinggian gelombang laut di Pulau Terluar tersebut mencapai 2,5 hingga 4,0 meter.
BMKG Bengkulu memprediksi potensi gelombang tinggi ini masih akan terjadi hingga tanggal 28 Juli 2025. Akibat gelombang tinggi dan angin kencang tersebut transportasi laut menuju Pulau Terluar Enggano tidak dapat beroperasi.
Salah seorang warga Pulau Enggano Nova mengaku, Kapal Fery Pulo Tello yang menjadi transpotrasi angkutan penumpang, barang dan kendaraan menuju Pulau Enggano sudah 1 pekan terkahir tidak dapat berlayar. Hal ini akibat dari gelombang tinggi yang sudah terjadi sejak tanggal 23 Juli 2026.
Sedangkan Kapal Perintis M Husni Thamrin yang merupakan transporasi pengangkut penumpang dan barang sudah 3 hari tidak berlayar. Menurut Nova Kapal Perintis M Husni Thamrin sudah mencoba berlayar namun lantaran tingginya gelombang di tengah laut, membuat kapal tersebut terpaksa harus putar balik ke Pelabuhan Pulai Baai Bengkulu.
“Iya memang 1 minggu ini gelombang laut tinggi dan angin kencang juga. Jadi Kapal Ferry itu sudah lama tidak berlayar mungkin ada 1 mingguan, kalau kapal perintis sudah 3 hari ini tidak berlayar,” ujar Nova kepada RRI Jumat 24 Juli 2026
Kondisi ini membuat warga di Pulau Terluar Enggano tidak bisa mengeluarkan hasil buminya. Salah satunya komuditas unggulan dari Pulau Enggano yakni pisang.
Lantaran belum mendapatkan infomasi pasti terkait keberangkatan kapal, baik itu Kapal Ferry Pulo Tello maupaun Kapal M Husni Thamrin. Untuk saat ini warga Enggano menunda untuk melakukan pemanenan pisang.
Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kerugian, mengingat pisang jika sudah dipanen tidak akan bertahan lama. Apalagi pisang yang biasanya dibawa ke Kota Bengkulu jumlahnya tidak sedikit.
“Kalau kapal lagi tidak jalan seperti ini pisang-pisang tidak bisa dibawa keluar. kalau sudah ada info pasti kapal berangkat barulah warga memanen pisang, kalau tidak pasti pisangnya akan mubazir saja,” ucapnya.
Selain gelombang tinggi dan angin kencang, dampak musim kemarau juga sudah mulai dirasakan oleh masyarakat di Pulau Terluar Enggano. Tanah dikawasan perkebunan warga sudah kering dan pecah-pecah.
Selain itu sebagian tanaman palawija warga seperti kacang tanah juga ikut mengerin. Untuk saat ini warga hanya mampu nenyirami tanamannya dengan air seadanya dengan harapan tanaman dikebunya tetap bertahan hingga siap panen.
