Instran.id – PT MRT Jakarta (Perseroda) menyebutkan pengembangan berbasis transit (TOD) memberikan efek ganda sebagai pemicu pertumbuhan ekonomi di sekitar area transit seperti stasiun moda raya terpadu (MRT) Jakarta.
“Pengembangan di area TOD memberikan multiplier effect, transformasi ruang transit kota dalam memicu pertumbuhan ekonomi,” kata TOD Planning Department Head MRT Jakarta Sagita Devi dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, Kamis.
“Seperti misalnya peningkatan nilai okupansi bangunan, munculnya berbagai tipologi komersial baru, dan kenaikan jumlah penumpang,” ujar dia menambahkan.
Sagita mengatakan pengembangan berbasis transit dapat membuat MRT sebagai katalis regenerasi perkotaan melalui kehadiran transportasi publik yang andal, integrasi transportasi sebagai prioritas, penyediaan dan revitalisasi ruang publik, serta pertumbuhan ekonomi melalui interkoneksi.
Adapun fokus strategis pengembangan TOD sendiri antara lain konektivitas pejalan kaki melalui integrasi stasiun dan bangunan secara mulus (seamless), dan pengembangan infrastruktur dan sistem parkir berserta pengoperasian serta pemeliharannya.
Lebih lanjut, Sagita mengatakan bahwa fokus lainnya adalah pengembangan mixed-use melalui integrasi fungsi komersial, hunian, dan ruang publik, seperti contohnya Transport Hub Dukuh Atas.
“Selanjutnya, optimalisasi aset dengan memaksimalkan nilai dan pemanfaatan aset di sekitar area transit. Mengoptimalkan aset pemerintah provinsi untuk meningkatkan nilai (value), kolaborasi dengan BUMD lain, kolaborasi dengan pihak swasta dalam pengembangan aset-aset ke depan,” jelas Sagita.
Fokus lainnya adalah melalui komersialisasi transit dengan memaksimalkan potensi komersial untuk menciptakan infrastruktur mandiri (self-sustained infrastructure), seperti contohnya Blok M Hub yang kini berevolusi menjadi lokasi transit kekinian yang begitu inklusif dan terintegrasi.
Selain itu, Sagita mengatakan TOD juga dapat dikembangkan untuk meningkatkan potensi pariwisata perkotaan di Jakarta.
Salah satu contohnya adalah pengembangan area transit Dukuh Atas termasuk Fasilitas Pejalan Kaki (Pedestrian Deck), yang menonjolkan konektivitas seamless dengan berbagai operator transportasi publik, termasuk kereta bandara.
“Harapannya turis-turis yang dari bandara bisa langsung ke tengah kota dengan kereta bandara, turun di sini (Dukuh Atas), dan pengembangan mixed-use di Transport Hub (Dukuh Atas), termasuk dengan adanya hotel di atasnya,” ujar Sagita.
“Ini mendorong seamless connectivity untuk transportasi publik dan infrastruktur di sekitarnya melalui jalur pedestrian, sehingga akan lebih banyak pejalan kaki. Perlu juga ditambah infrastruktur pejalan kaki yang lebih aman dan nyaman untuk pengguna transportasi umum,” imbuhnya.
