Tragedi Bekasi Timur, Pengamat Transportasi ITB Soroti Isu Mobil Listrik & Persinyalan

Instran.id – Tabrakan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam, menewaskan 15 orang dan 84 korban luka-luka.

Kecelakaan maut ini mendapat sorotan dari Pengamat Transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB), Sony Sulaksono.

Sony mengatakan kecelakaan kereta ini menunjukkan pencegahan kecelakaan di layanan transportasi di Indonesia masih perlu pembenahan secara maksimal.

“Kasus kecelakaan ini cukup memprihatinkan karena masih menunjukkan bahwa mitigasi bencana pada layanan transportasi di negara kita masih perlu pembenahan,” kata Sony saat dihubungi, Rabu (29/4).

Isu pertama yang jadi sorotan adalah, tabrakan ini berawal dari insiden mogoknya kendaraan taksi saat diduga hendak menerobos palang pintu perlintasan rel kereta. Saat itu, taxi tertemper KRL yang sedang melintas, dan Commuter Line lain dari Stasiun Bekasi Timur menunda perjalanannya.

“Adanya kendaraan (taksi) yang maksa melintas jalur perlintasan. Ini banyak terjadi dan sering mengakibatkan kecelakaan (tertemper) kendaraan oleh KA,” ujarnya.

Hal lain yang jadi perhatian adalah kendaraan yang mogok di perlintas adalah jenis mobil listrik.

Kata Sony, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) perlu menginvestigasi kaitan mobil listrik dengan sinyal KA yang jadi kendala dalam kecelakaan tersebut.’

“Yang menjadi perhatian berikutnya adalah fakta kendaraan yang melintas (dan mogok) adalah kendaraan listrik. Ini juga menjadi isu bagaimana keselamatan mobil listrik saat melihat jalan baja,” ujarnya.

“Yang perlu KNKT investigasi lagi adalah tabrakan kereta dengan mobil listrik tersebut apakah juga memicu masalah persinyalan, sehingga kereta jarak jauh tersebut tidak sempat melakukan pengereman untuk menghindari tabrakan,” lanjutnya.

Di sisi lain, Sony sepakat dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang meminta pintu perlintasan kereta api agar dijaga dan dibangun flyover.

“Pembangunan FO (flyover) menjadi kebutuhan selain masalah kedisiplinan pengguna jalan di perlintasan sebidang,” ungkap Sony.

 

Sumber: https://m.jpnn.com/news/tragedi-bekasi-timur-pengamat-transportasi-itb-soroti-isu-mobil-listrik-persinyalan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *