Instran.id – Wacana kenaikan tarif TransJakarta kembali mengemuka seiring membengkaknya beban subsidi transportasi yang ditanggung Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Namun, hingga saat ini Pemprv DKI belum juga bisa memutuskan kenaikan tarif tersebut.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai penyesuaian tarif sudah layak dipertimbangkan setelah hampir dua dekade tarif TransJakarta bertahan di angka Rp3.500 per perjalanan.
Menurut Djoko, tarif yang berlaku sejak 2005 tersebut sudah tidak lagi mencerminkan biaya operasional layanan transportasi massal yang terus meningkat. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan tarif hanya dapat diterima masyarakat apabila dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan secara nyata.
“Penyesuaian tarif harus diikuti perbaikan layanan, mulai dari frekuensi bus, ketepatan waktu, kenyamanan armada hingga integrasi antarmoda. Masyarakat harus merasakan manfaat langsung dari tarif yang lebih tinggi,” ujarnya.
Pada APBD DKI Jakarta Tahun 2026, Pemprov telah mengalokasikan subsidi transportasi publik sebesar Rp4,77 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp3,75 triliun diberikan kepada TransJakarta, sementara MRT Jakarta memperoleh Rp700 miliar dan LRT Jakarta sebesar Rp325,28 miliar. Nilai subsidi tersebut setara sekitar 5,8 persen dari total APBD DKI Jakarta yang mencapai Rp81,32 triliun.
Djoko menjelaskan, saat ini besaran subsidi yang ditanggung pemerintah untuk setiap perjalanan TransJakarta mencapai lebih dari Rp9.000 per penumpang. Karena itu, kenaikan tarif ke kisaran Rp5.000 hingga Rp7.000 dinilai dapat membantu memperkecil kesenjangan antara biaya operasional dan pendapatan tiket.
“Kenaikan tarif akan membantu menyehatkan fiskal daerah karena mengurangi beban subsidi. Ruang anggaran yang tersedia nantinya bisa dialihkan untuk program prioritas lain atau mendukung investasi jangka panjang di sektor transportasi,” katanya.
Ia menambahkan, tambahan pendapatan dari tiket juga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pengadaan armada bus listrik, melakukan peremajaan bus yang sudah berusia tua, serta meningkatkan fasilitas pendukung seperti halte dan akses integrasi dengan MRT, LRT, maupun KRL.
Meski demikian, Djoko mengingatkan adanya risiko sosial yang tidak boleh diabaikan. Kenaikan tarif berpotensi memberikan tekanan tambahan bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang sangat bergantung pada layanan TransJakarta untuk mobilitas sehari-hari.
Menurutnya, kenaikan sebesar Rp1.500 hingga Rp3.500 per perjalanan dapat mengurangi kemampuan belanja masyarakat kelompok rentan apabila tidak diimbangi dengan kebijakan perlindungan yang memadai.
“Karena itu, skema tarif Rp0 bagi kelompok tertentu seperti pelajar, lansia, penyandang disabilitas, dan buruh ber-KTP Jakarta harus tetap dijaga bahkan diperkuat agar mobilitas masyarakat rentan tidak terganggu,” jelasnya.
Selain itu, Djoko juga menyoroti risiko peralihan pengguna kembali ke kendaraan pribadi apabila kenaikan tarif tidak dibarengi peningkatan layanan. Kondisi tersebut justru dapat memperburuk kemacetan dan polusi udara di Jakarta.
“Kalau tarif naik tetapi waktu tunggu masih lama, armada tetap penuh sesak, atau integrasi antarmoda belum nyaman, maka pengguna bisa kembali memilih sepeda motor. Ini yang harus dihindari,” tegasnya.
Tantangan lainnya muncul pada layanan Transjabodetabek yang melayani komuter dari Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Menurut Djoko, pemerintah perlu memastikan formulasi tarif yang tetap menarik agar masyarakat di wilayah penyangga tetap terdorong menggunakan transportasi publik.
Ia menegaskan, reformasi tarif TransJakarta bukan sekadar persoalan menaikkan harga tiket, melainkan upaya mencari keseimbangan antara keberlanjutan layanan transportasi massal dan keadilan sosial.
“Keberhasilan kebijakan ini tidak diukur dari besarnya penghematan anggaran semata, tetapi dari kemampuan pemerintah menjaga akses transportasi yang terjangkau sekaligus menghadirkan layanan yang lebih baik bagi masyarakat,” pungkas Djoko.
