Medan Sudah Saatnya Memiliki BRT, untuk Mengurangi Kemacetan

Instran.id – Pengamat transportasi Ki Darmaningtyas menilai kehadiran Bus Rapid Transit (BRT) merupakan kebutuhan bagi kota besar seperti Medan yang terus mengalami pertumbuhan jumlah penduduk dan kendaraan bermotor.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa BRT bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi kemacetan, melainkan bagian dari upaya membangun sistem transportasi perkotaan yang lebih baik dan berkelanjutan.

BRT memang bukan solusi jitu mengatasi kemacetan, tetapi suatu kota kalau mau memberikan layanan angkutan umum yang berkeselamatan, aman, terjangkau, dan ada kepastian waktu kepada warganya, perlu memiliki BRT,” kata Ki Darmaningtyas saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Rabu (10/6/2026).

Menurut Ki Darmaningtyas, Kota Medan yang merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia memiliki tingkat mobilitas masyarakat yang tinggi. Dengan aktivitas ekonomi, pendidikan, perdagangan, dan jasa yang terus berkembang, kebutuhan terhadap transportasi publik yang berkualitas menjadi semakin mendesak.

“Kota sebesar Medan sudah saatnya punya BRT, biar sebagian warganya beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum,” ujarnya.

Ia menilai, selama ini persoalan kemacetan di berbagai kota besar, termasuk Medan, tidak bisa hanya diselesaikan dengan memperlebar jalan atau membangun infrastruktur baru. Sebab, pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang terus meningkat pada akhirnya akan kembali memenuhi kapasitas jalan yang tersedia.

Ki Darmaningtyas juga mengingatkan bahwa diskusi mengenai pengembangan BRT seharusnya tidak lagi berfokus pada persoalan apakah masyarakat yakin atau tidak terhadap moda transportasi tersebut. Hal yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah, pemangku kepentingan, dan masyarakat bersama-sama mendorong perubahan perilaku agar penggunaan angkutan umum semakin meningkat.

“Pertanyaannya jangan yakin dan tidak, tapi bagaimana mendorong agar warga Medan mau pindah ke BRT,” tegasnya.

Menurut dia, keberhasilan sebuah sistem transportasi massal tidak hanya ditentukan oleh kualitas armada maupun infrastruktur yang disediakan pemerintah, tetapi juga oleh kemauan masyarakat untuk mengubah kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi.

Ia menilai, selama ini banyak masyarakat yang mengeluhkan kemacetan lalu lintas yang semakin parah.

Namun, di sisi lain, sebagian besar warga masih memilih menggunakan kendaraan pribadi dalam aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

“Jangan hanya mengeluh macet-macet terus, tapi harus berkontribusi mengatasi kemacetan tersebut dengan pindah dari kendaraan pribadi ke angkutan umum (BRT),” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ki Darmaningtyas mengatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat merupakan faktor penting dalam menciptakan sistem transportasi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan angkutan umum, maka semakin besar pula peluang untuk mengurangi kepadatan kendaraan di jalan, menekan konsumsi bahan bakar, serta mengurangi tingkat polusi udara.

Ia menambahkan, keberadaan BRT juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat karena biaya perjalanan menjadi lebih terjangkau dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi. Selain itu, kepastian waktu perjalanan yang menjadi salah satu keunggulan BRT dapat meningkatkan produktivitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, pembangunan sistem transportasi publik tidak boleh hanya dipandang sebagai proyek fisik semata, melainkan sebagai upaya menciptakan budaya baru dalam mobilitas perkotaan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat agar tujuan menghadirkan transportasi yang lebih modern dan berkelanjutan dapat tercapai.

Ki Darmaningtyas berharap pengembangan BRT di Medan nantinya dibarengi dengan pelayanan yang baik, mulai dari ketersediaan armada, ketepatan waktu, kenyamanan penumpang, hingga integrasi dengan moda transportasi lainnya.

Dengan pelayanan yang memadai, masyarakat akan memiliki alasan yang kuat untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi umum.

“Yang paling penting adalah bagaimana membuat masyarakat tertarik menggunakan BRT. Kalau pelayanannya baik dan masyarakat mau beralih, maka mereka juga ikut berkontribusi dalam mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi persoalan bersama,” katanya.

Ia pun optimistis bahwa kehadiran BRT dapat menjadi langkah awal bagi transformasi sistem transportasi di Kota Medan.

Namun, keberhasilan program tersebut, lanjutnya, tidak hanya bergantung pada pemerintah sebagai penyedia layanan, melainkan juga pada kesadaran masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi dalam mengatasi kemacetan perkotaan. Dengan kolaborasi tersebut, Medan diharapkan mampu memiliki sistem transportasi yang lebih aman, nyaman, efisien, dan ramah lingkungan di masa mendatang.

 

Sumber: https://sumutpos.jawapos.com/sumatera-utara/2606100048/medan-sudah-saatnya-memiliki-brt-untuk-mengurangi-kemacetan?page=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *