Instran.id – Pengamat transportasi Darmaningtyas mengatakan, Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB) tidak akan optimal jika pembangunan Tol Cikampek 2 telah selesai.
“Jawaban saya tidak (optimal). Apalagi kalau Tol Cikampek 2 telah usai terbangun yang akan memperpendek jarak tempuh Jakarta – Bandung dengan menggunakan mobil pribadi,” kata Darmaningtyas dalam keterangannya pada Law Justice, Sabtu (8/10/2022).
“Maka mereka yang bermobil akan lebih suka (pergi) Jakarta – Bandung dan sebaliknya dengan menggunakan mobil pribadi,” imbuhnya.
Namun, lanjutnya, karena sudah terlanjur dibangun, mau tidak mau harus dilanjutkan. Menurutnya, sangat tidak elok kalau misal pembangunannya dihentikan di tengah jalan (mangkrak) karena sudah puluhan triliun dikeluarkan membangun infrastruktur KCJB.
“Jadi bagi Pemerintah, KCJB ini maju kena mundur kena. Kalau maju artinya subsidi sepanjang masa pasti akan menanti, tapi kalau mundur dana puluhan triliun akan mangkrak,” ujar Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) itu.
Darmaningtyas melanjutkan, lebih baik maju terus, toh kalau kelak menjadi beban berat APBN, pemerintahnya sudah ganti.
Biaya KCJB bengkak, jadi beban APBN?
Mengenai pendanaan KCJB diketahui mengalami pembengkakan (cost overrun). Biaya awal yang mulanya Rp 86,5 triliun mengalami pembengkakan.
PT KCIC memperkirakan cost overrun sekitar Rp 27,9 triliun, tapi hasil audit pertama BPKP menyatakan jumlahnya sekitar Rp 16,8 triliun. Saat ini, BPKP masih melakukan audit kedua terhadap kebutuhan dana tambahan KCJB.
Rencananya, kebutuhan dana tambahan itu akan ditambal dengan Penyertaan Modal Negara (PMN) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional.
Bila ditotal, kebutuhan biaya untuk KCJB adalah sekitar Rp 100 triliunan. Menurut Darmaningtyas, besarnya biaya investasi itu belum tentu bisa balik modal.
“Yang ingin saya komentari dari biaya investasi yang besar tersebut adalah belum tentu balik, karena pemasukan dari tiket dan iklan untuk menutup biaya operasi saja tidak mungkin mencukupi, sehingga memerlukan subsidi dari Pemerintah,” ujarnya.
Ia melanjutkan, jadi beban APBN ke depan adalah untuk mengembalikan biaya investasi yang mencapai Rp 100 triliun itu dan subsidi operasional. Hal itu menurutnya penting untuk diketahui publik.
Benarkah jarak KCJB terbilang `tanggung`?
KCJB diketahui menempuh jarak 142 kilometer, sementara kereta cepat di negara lain menempuh jarak rata-rata 400 kilometer. Hal ini sempat menjadi perdebatan di masyarakat.
Sebelumnya, kereta cepat direncanakan dibangun dari Jakarta – Surabaya. Namun, besarnya anggaran yang dibutuhkan membuat pemerintah mengalihkan jarak kereta cepat menjadi Jakarta – Bandung.
“Kalau KA Cepat Jakarta – Surabaya masih logis, tapi kalau KCJB memang agak repot, jarak 142 km itu tanggung, lebih baik dilayani dengan menggunakan KA regular yang ditingkatkan kecepatannya,” kata Darmaningtyas.
Apalagi, lanjutnya, ketika desain awal akan berhenti di empat stastiun. Menurut Darmaningtyas, itu bukan kereta api cepat lagi namanya.
Benarkah travel time KCJB hanya 30 menitan?
Travel time KCJB diproyeksikan hanya sekitar 36 menit. Namun, Darmaningtyas mengatakan hal itu dihitung dari Stasiun Halim ke Stasiun Tegaluar/Padalarang, sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk sampai di kota Jakarta atau Bandung.
“Travel time 36 itu dihitung dari stasiun ujung pemberangkatan ke ujung tiba. Katakanlah yang dari Bandung, 36 menit itu terhitung dari Stasiun Tegaluar/Padalarang (mana persisnya) ke Stasiun Halim. Demikian pula sebaliknya,” kata dia.
Sedangkan, lanjutnya, dari rumah ke stasiun atau sebaliknya memerlukan waktu tersendiri. Menurutnya, bila dari rumah di Jakarta menuju Stasiun Halim perlu waktu satu jam dan dari stasiun akhir di Bandung sampai tujuan perlu waktu 30-60 menit, maka total waktu perjalanan lebih dari dua jam.
“Kalau total waktu perjalanan dengan menggunakan KA Cepat memerlukan waktu dua jam lebih, maka bagi pengguna mobil pribadi akan memilih menggunakan mobil pribadi dibandingkan dengan menggunakan KA Cepat,” ujar Darmaningtyas.
Ia melanjutkan, “terlebih bila yang bepergian lebih dari satu orang.” Menurutnya, biaya yang dikeluarkan untuk membeli bensin dan membayar tol akan sama dengan harga tiket KCJB.
Bedanya, kalau naik mobil bisa langsung sampai ke tempat tujuan. “Kecenderungan memilih naik mobil pribadi akan semakin tinggi ketika Tol Cikampek 2 selesai, sehingga Jakarta – Bandung dapat ditempuh dalam waktu 1,5 jam,” pungkasnya.
Sumber: https://www.law-justice.co/artikel/139169/pengamat-kcjb-tidak-optimal-jika-pembangunan-tol-cikampek-2-selesai/
