Instran.id – Direktur Utama (Dirut) PT Transjakarta, Welfizon Yuza, mengungkapkan apresiasinya terhadap perjuangan awal pendirian Transjakarta saat Diskusi Refleksi 21 Tahun Transjakarta di Gedung Menara Cakrawala, Thamrin, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Menurut Welfizon, keberhasilan Transjakarta saat ini merupakan hasil dari kerja keras dan pengambilan keputusan politik yang sulit oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan timnya.
“Apapun tantangan yang kita hadapi hari ini, tidak sebanding dengan perjuangan Bang Yos dan tim memulai layanan ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa refleksi ini juga menjadi modal bagi Transjakarta untuk terus berkembang. Salah satunya adalah fokus pada integrasi transportasi.
“Transjakarta tidak berdiri sendiri, kami memposisikan bus sebagai integrator yang fleksibel, dapat bergerak lebih cepat, dan dengan biaya relatif lebih rendah dibanding moda lain,” kata Welfizon.
Welfizon menegaskan, masukan dari masyarakat menjadi kunci perbaikan layanan.
“Transjakarta milik publik. Masukan pengguna akan kami jadikan indikator utama untuk mengevaluasi layanan setiap bulan. Saat ini, rata-rata ada 25 ribu masukan per bulan yang kami rekap, baik berupa pertanyaan, informasi, apresiasi, maupun keluhan,” jelasnya.
Hingga 31 Desember 2025, jaringan Transjakarta telah menjangkau 92,4 persen wilayah Jakarta, sehingga 9 dari 10 warga dapat mengakses layanan dalam radius 5–10 menit jalan kaki. Meski begitu, potensi pengguna masih besar. Saat ini, modeshare transportasi umum baru sekitar 22–25 persen dari total penduduk DKI Jakarta dan Jabodetabek. “Infrastruktur ada, namun pengguna masih jauh dari optimal. Ini menjadi pekerjaan rumah kami bersama,” kata Welfizon.
Ia menambahkan, Transjakarta kini juga mulai memperkuat strategi komunikasi publik untuk meningkatkan penggunaan transportasi umum. Selain fungsi fungsional, seperti kecepatan dan biaya, aspek emosional dan keberlanjutan lingkungan juga ditekankan.
“Setiap perjalanan yang berpindah dari mobil pribadi ke Transjakarta, emisinya turun 94 persen per orang,” ujar Welfizon.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung pentingnya perbaikan kesejahteraan sopir dan tenaga Transjakarta, mencontohkan praktik di negara lain yang memberi kompensasi dan fasilitas memadai bagi pengemudi. Menurutnya, peningkatan motivasi dan kesejahteraan staf menjadi kunci keberhasilan layanan publik.
Welfizon menutup sambutannya dengan menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak, baik manajemen, pemerintah, maupun pengguna, agar Transjakarta terus berkembang dan menjadi tulang punggung transportasi berkelanjutan di Jakarta.
