Instran.id – PT Kereta Api Indonesia (KAI) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) terus mempercepat program modernisasi Stasiun Bogor guna meningkatkan kapasitas pelayanan transportasi publik di kawasan Jabodetabek. Langkah ini dilakukan menyusul melonjaknya jumlah pengguna Commuter Line Bogor yang mencapai lebih dari 155 juta penumpang sepanjang tahun 2025.
Peningkatan kapasitas stasiun menjadi salah satu fokus utama KAI untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus bertambah setiap tahunnya. Melalui pembangunan peron baru pada jalur 6, 7, dan 8, Stasiun Bogor dipersiapkan untuk mendukung operasional rangkaian kereta dengan formasi 12 kereta atau SF12 yang memiliki daya angkut lebih besar.
Proyek pengembangan tersebut mulai dikerjakan sejak 15 April 2026 dan hingga kini menunjukkan progres yang lebih cepat dibandingkan target awal yang telah ditetapkan. KAI menargetkan peningkatan pelayanan dapat segera dirasakan oleh para pengguna Commuter Line, khususnya pada koridor Bogor yang menjadi salah satu jalur tersibuk di Indonesia.
Jumlah Penumpang Terus Meningkat
Data operasional menunjukkan tren peningkatan pengguna Commuter Line Bogor dari tahun ke tahun. Sepanjang 2024, jumlah pelanggan tercatat mencapai 145,9 juta orang. Angka tersebut kemudian meningkat signifikan menjadi sekitar 155 juta pelanggan pada 2025.
Sementara itu, hingga April 2026 saja, jumlah pengguna telah mencapai 51,8 juta pelanggan. Capaian tersebut memperlihatkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap layanan transportasi berbasis rel sebagai pilihan utama untuk aktivitas harian.
Lonjakan jumlah penumpang ini menjadi salah satu alasan utama percepatan pengembangan infrastruktur di Stasiun Bogor. Dengan kapasitas yang lebih besar, diharapkan pelayanan dapat berjalan lebih lancar sekaligus mengurangi kepadatan pada jam sibuk.
Stasiun Bogor Jadi Salah Satu yang Tersibuk di Jabodetabek
Sebagai stasiun akhir sekaligus simpul transportasi penting di wilayah selatan Jabodetabek, Stasiun Bogor mencatat aktivitas penumpang yang sangat tinggi.
Sepanjang tahun 2025, jumlah pelanggan yang masuk ke Stasiun Bogor mencapai sekitar 18,2 juta orang. Angka yang hampir sama juga tercatat untuk pelanggan yang keluar dari stasiun tersebut.
Tingginya volume penumpang menjadikan Stasiun Bogor sebagai salah satu stasiun dengan aktivitas terbesar di jaringan Commuter Line Jabodetabek. Kondisi tersebut menuntut peningkatan fasilitas agar pelayanan tetap optimal di tengah pertumbuhan pengguna yang terus meningkat.
Penguatan Konektivitas Melalui Stasiun Bogor Paledang
Selain melakukan peningkatan kapasitas di area stasiun utama, KAI juga memperkuat konektivitas antarmoda melalui pengembangan akses menuju Stasiun Bogor Paledang.
Kedua stasiun kini terhubung melalui fasilitas skybridge yang memudahkan mobilitas penumpang. Kehadiran jembatan penghubung tersebut memungkinkan pelanggan berpindah moda transportasi dengan lebih cepat dan nyaman, terutama bagi pengguna Kereta Api Pangrango.
Integrasi ini juga mendukung konsep transportasi berkelanjutan dengan menghadirkan kemudahan akses menuju berbagai layanan transportasi lainnya yang tersedia di sekitar kawasan stasiun.
Pembangunan Infrastruktur Penunjang Terus Dikebut
Dalam proyek modernisasi yang sedang berlangsung, KAI bersama DJKA tidak hanya membangun peron baru. Sejumlah pekerjaan penunjang juga dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan dan keselamatan penumpang.
Beberapa pekerjaan yang tengah berjalan meliputi pembangunan kanopi baru untuk melindungi pengguna dari cuaca, penataan sistem listrik aliran atas, serta penyempurnaan konstruksi peron guna mendukung operasional kereta berkapasitas besar.
Selama proses pembangunan berlangsung, KAI dan KAI Commuter tetap menjaga kelancaran operasional melalui penerapan rekayasa arus penumpang. Langkah ini dilakukan agar aktivitas perjalanan kereta tetap berjalan normal tanpa mengganggu pelayanan kepada masyarakat.
Dengan modernisasi yang terus dipercepat, Stasiun Bogor diharapkan mampu menjadi pusat transportasi yang lebih modern, aman, dan nyaman sekaligus mendukung tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat di wilayah Bogor dan sekitarnya.
