MRTJ Kembangkan Penataan Ruang Publik, Pacu Ekonomi Inklusif

Instran.id – PT MRT Jakarta (Perseroda) mengembangkan pendekatan penataan ruang publik (placemaking development), salah satunya untuk mendorong aktivitas perekonomian inklusif di sekitar kawasan MRT.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRTJ Samuel Ryan Pradipta mengatakan, hal ini senada dengan posisi placemaking sebagai sebuah pendekatan perancangan dan pengelolaan ruang ketiga yang berkualitas, dengan menekankan penciptaan sense of place.

“Yaitu tempat yang hidup, inklusif, dan bermakna dengan berbagai aktivitas di dalamnya, serta pelibatan masyarakat dan bisnis lokal, tidak hanya sekadar pembangunan fisik atau infrastruktur,” kata Samuel dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, Samuel mengatakan bahwa hal ini senada dengan salah satu pilar bisnis MRTJ, yaitu city regenerator, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali simpul ekonomi di sekitar kawasan stasiun MRT.

City regenerator ini sebetulnya menghidupkan lagi simpul-simpul ekonomi yang ada di kota, khususnya kota tercinta kita di Jakarta,” ujar dia.

Ia mencontohkan bagaimana kawasan Blok M yang sempat sepi, kini berubah sebagai pusat kuliner kekinian yang tetap memberikan nilai nostalgia, yang bisa dinikmati oleh semua kalangan.

“Selain itu nyaman untuk siapa pun, dan yang paling penting sebetulnya ekonominya jadi tumbuh. Di situ, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)-nya bisa berkembang. Sekarang UMKM yang menjadi tenant MRT sudah hampir 500,” kata Samuel.

“Kami senang juga bisa bekerja sama dengan UMKM karena kalau belanjanya banyak di UMKM, UMKM yang tumbuh, pada ujungnya nanti pendapatan daerahnya di DKI Jakarta juga meningkat,” ujarnya menambahkan.

Lebih jauh, Samuel mengatakan tujuan dari placemaking development adalah menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif (sense of belonging) dari masyarakat.

Dengan memiliki tempat yang bermakna dan inklusif, diharapkan pembangunan di kawasan yang terintegrasi dengan transportasi umum seperti MRT bisa hidup secara aktivitas dan roda perekonomian berkelanjutan.

“Sebetulnya, kata kuncinya adalah inklusif, dan yang paling penting konsep placemaking ini adalah melibatkan masyarakat dan bisnis lokal,” kata Samuel.

“Jadi kita siapkan tempat, lalu masyarakat melibatkan, termasuk komunitas-komunitas atau bisnis juga dirangkul untuk membuat suatu kawasan ini hidup,” imbuhnya.

Selain itu, Samuel mengatakan bahwa prinsip utama lainnya dari placemaking adalah keterhubungan berbagai akses transportasi, kenyamanan dan keamanan, aktivasi kegiatan di kawasan, dan membuat ruang interaksi masyarakat.

“Karena justru ini yang akan menghidupkan semua dari kawasannya. Kalau orang sudah nyaman di situ, bisa berkumpul sama komunitasnya di sana, bertemu teman, janjian, dan lain-lain, itu baru memenuhi konsep dari placemaking,” ujar Samuel.

 

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/5733795/mrtj-kembangkan-penataan-ruang-publik-pacu-ekonomi-inklusif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *