“Heritage-nya tidak boleh hilang, karena itu kekayaan kota kita juga.”
Instran.id – PT MRT Jakarta (Perseroda) mempertahankan nilai warisan (heritage) dalam pengembangan penataan ruang publik (placemaking development) Kota Tua, Jakarta.
“Heritage-nya tidak boleh hilang, karena itu kekayaan kota kita juga,” kata Division Head Business Planning and Expansion Division MRTJ Samuel Ryan Pradipta dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026, di Jakarta, Rabu.
Adapun saat ini progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI hingga Kota telah mencapai 61,8 persen per Juni 2026 dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir tahun 2029.
Lebih rinci, segmen 1 yaitu Bundaran HI-Monas ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada akhir 2027. Sementara, pembangunan jalur hingga Kota yang masuk ke segmen 2 ditargetkan selesai dan beroperasi penuh pada akhir tahun 2029.
Samuel mengatakan, pengembangan kawasan Kota Tua menerapkan konsep placemaking development yang mempertahankan identitas heritage, seperti Pecinan (Chinatown) Glodok dan bangunan-bangunan peninggalan Belanda (Little Amsterdam) yang masih berdiri dan menjadi destinasi wisata favorit di Ibu Kota.
“Jadi memang Kota ini sebetulnya sudah punya identity. Kawasan Glodok dan Pecinan, banyak juga bangunan Belanda. Tapi, orang juga ingat ke sana untuk belanja elektronik, diharapkan ini juga tetap ada untuk menjadi sentra elektronik yang hidup kembali,” ujar dia.
Selain itu, Samuel mengatakan pengembangan lainnya juga revitalisasi Kota Tua sebagai pusat kesenian, khususnya film.
Placemaking development berbasis nilai heritage ini pun, kata Samuel, juga sudah berhasil dilakukan di sejumlah kota, mulai dari Chinatown dan Little India di Singapura; George Town di Penang, Malaysia; hingga Shanghai di China.
Upaya ini diharapkan mampu mengembangkan kawasan yang terintegrasi dengan akses transportasi umum dan memiliki keunikan tersendiri, yang pada akhirnya menciptakan daya tarik pariwisata khususnya wisatawan mancanegara (wisman) saat berkunjung ke Jakarta.
Samuel mengatakan, rata-rata turis yang melancong ke Jakarta hanya tinggal selama 1-2 malam saja, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata lainnya, seperti Bandung, Bali, hingga Bangka Belitung.
“Jadi kita dorong agar bisa stay lebih lama di Jakarta, 3-4 hari, bisa explore dulu ke Kota Tua, ke Blok M. Itu yang sedang didorong oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,“ katanya pula.
