Instran.id – PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mendorong kendaraan listrik menjadi solusi mobilitas sektor pertambangan melalui pengembangan armada komersial yang menyesuaikan kebutuhan operasional, utilisasi tinggi, serta efisiensi biaya perusahaan.
Direktur dan Chief Corporate Affairs VKTR Indah P. Saugi mengatakan elektrifikasi kendaraan komersial harus dibangun berdasarkan kebutuhan operasional yang nyata, termasuk di sektor industri pertambangan.
“Pelaku industri membutuhkan kendaraan yang tidak hanya rendah emisi, tetapi juga mampu bekerja secara konsisten, memiliki reliability yang baik, dan memberikan efisiensi biaya,” kata Indah dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
VKTR, pelopor elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia, turut berpartisipasi dalam Mining Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta.
Dalam pameran pertambangan internasional terbesar di Asia Tenggara yang memasuki gelaran ke-24 ini, VKTR menampilkan bus listrik 8 meter “Arjuno” berkolaborasi bersama Laksana dan PT Bagong Dekaka Makmur yang telah menjadi pengguna dan operator bus tersebut, sebagai solusi mobilitas untuk kebutuhan operasional di sektor pertambangan.
Dikatakan mining Indonesia merupakan ajang utama pelaku industri pertambangan yang mempertemukan industri dan pemain global, sekaligus memperkenalkan teknologi dan solusi terbaru bagi kebutuhan operasional pertambangan.
Menurut Indah, dengan tingkat utilisasi yang tinggi, sektor pertambangan menjadi salah satu area yang menarik untuk mendorong elektrifikasi karena manfaatnya dapat dirasakan secara langsung dalam operasional.
Dia menuturkan pihaknya menghadirkan Arjuno sebagai bus listrik 8 meter yang menawarkan perpaduan kapasitas, jarak tempuh, dan fleksibilitas operasional. Dengan kapasitas hingga 25 penumpang, baterai 210 kWh, serta jarak tempuh hingga 350 kilometer, kendaraan itu siap mendukung kebutuhan mobilitas dengan utilisasi tinggi.
Selain itu, pengisian daya DC hingga penuh sekitar 90 menit juga memungkinkan operator menyesuaikan waktu charging dengan pola dan jadwal operasional armada.
Armada itu juga menjadi bagian dari kolaborasi VKTR, operator, dan Laksana Karoseri dalam menyediakan solusi kendaraan untuk operasional pertambangan di Indonesia. Penggunaan Arjuno untuk kebutuhan transportasi di area mining menjadi bagian dari pengalaman operasional VKTR dalam mengaplikasikan kendaraan listrik pada
“Portofolio VKTR untuk Kebutuhan Industri Arjuno merupakan bagian dari portofolio kendaraan listrik komersial VKTR yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan mobilitas di berbagai sektor,” jelasnya.
Selain bus listrik 8 meter dan 12 meter, VKTR juga memiliki lini truk listrik untuk kebutuhan logistik, pertambangan, maupun industri, dari light-duty hingga heavy-duty.
Portofolio tersebut mencakup truk 4×2 untuk kebutuhan angkutan ringan hingga truk 6×4 untuk kebutuhan dengan beban dan utilisasi lebih tinggi, termasuk aplikasi on-road maupun off-road, dan dirakit sepenuhnya di Magelang.
Khusus untuk kebutuhan operasional tambang, pengalaman Laksana dalam mengembangkan dan memproduksi bus menjadi bagian penting dalam memastikan kendaraan dapat disesuaikan dengan karakteristik operasional pengguna.
“Bagi kami, elektrifikasi bukan sekadar membeli kendaraan listrik, tetapi bagaimana kendaraan, energi, pembiayaan, dan operasional dapat dikelola untuk menciptakan value yang optimal,” kata Indah.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bagong Dekaka Makmur, Budi Susilo mengatakan pengalaman untuk operasional pertambangan memberikan pihaknya insight penting mengenai kebutuhan kendaraan di area pertambangan. Kendaraan harus mampu mengikuti ritme operasional dan memberikan keandalan yang dibutuhkan pengguna.
“Ini juga menjadi pembuktian bahwa kendaraan listrik komersial dapat dipertimbangkan sebagai alternatif yang kompetitif terhadap kendaraan konvensional, terutama ketika dilihat dari keseluruhan biaya dan kebutuhan operasionalnya,” kata Budi.
