Instran.id – Dalam upaya menekan penggunaan kendaraan pribadi, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menjajaki kerja sama dengan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta. Kerja sama dilakukan guna menghadirkan armada Transjakarta yang terintegrasi
“Kemarin sudah bertemu dengan Dinas Perhubungan DKI, kita akan menambahkan layanan Transjakarta menjadi pilihan moda untuk pergerakan,” kata Sekretaris Dishub Kota Depok, Aan Syurahman, Selasa (29/9/2026).
Dia menambahkan, langkah perluasan jalur dan integrasi transportasi umum ini diharapkan bisa menjadi penawar jangka panjang bagi kemacetan di wilayah Sawangan.
“Jadi ini sebagai bentuk antisipasi kemacetan penyediaan pelayanan transportasi publik terintegrasi,” ujarnya.
Berdasarkan data Dishub, sekitar 60 hingga 70 persen pergerakan warga pada pagi dan sore hari bertujuan menuju Jakarta untuk bekerja.
Pada hari kerja, volume kendaraan di simpang Kodim bisa menembus 1.662 unit pada jam sibuk sore. Angka ini sedikit melandai saat akhir pekan, meski kepadatan tetap terlihat di jam-jam tertentu.
Aan menambahkan, Dishub sebelumnya mengajukan empat rute trayek baru, yaitu Shila at Sawangan–Lebak Bulus, Terminal Sawangan–Kuningan, Terminal Depok–Cinere–Blok M, serta Terminal Jatijajar–Terminal Kampung Rambutan.
Satu rute lainnya berupa penyesuaian (rerouting), yakni trayek Universitas Indonesia–Manggarai (D21) yang sebelumnya melayani rute Terminal Jatijajar–Manggarai.
Menurut Aan, pengembangan layanan Transjabodetabek menjadi kebutuhan seiring tingginya mobilitas masyarakat Depok menuju Jakarta setiap hari untuk bekerja, menempuh pendidikan, maupun beraktivitas.
“Banyak warga Depok yang bekerja atau beraktivitas di Jakarta. Karena itu, pengembangan rute ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi sekaligus mengurai kemacetan,” jelasnya.
Terkait kemacetan di Sawangan itu sendiri, dengan adanya pembangunan pasti ada dampaknya.
Di lapangan, petugas Dishub bersama Satlantas Polres Metro Depok rutin disiagakan pada jam-jam rawan untuk mengatur lalu lintas.
Namun, akar masalahnya juga dipicu oleh tingginya ketergantungan warga yang menggunakan kendaraan pribadi. n Aji Hendro
